Tuesday, 12 January 2016

Ini Nasi Yang Ku Suap oleh Masuri S.N

Ini nasi yang kusuap
pernah sekali menjadi padi harap
melentok dipuput angin pokoknya kerap
tenang berisi tunduk menatap

Ini butir nasi yang kukunyah
sedang kutelan melalui tekak basah
jadi dari darah mengalir
dalam badan gerak berakhir

Angin kencang mentari khatulistiwa
membakar raga petani di sawah
panas hujan dan tenaga masuk kira
dan nasi yang kusuap campuran dari manusia

Ini budi yang kusambut
pemberian lumrah beranting dan bertaut
ini nasi hasil dari — kerja
kembali pada siapa yang patut menerima

Jadi yang kumakan bukan berasal dari nasi
tapi peluh, darah, dalam isi mengalir pasti
jadi kutelan bukan berasal dari padi
tapi dari urat dari nadi seluruh pak tani

Masuri S.N

Monday, 11 January 2016

Senja oleh Othman Bin Suhot

Itu sudah menjadi satu kebiasaan 
Kau datang bertamu,
Sebentar lagi, kau akan pergi lagi
Meninggallkan aku sepi
Biarkan saje aku kesendirian 
Senja...

Ketahuilah, saat kau menjelma
Aku suka memandang langit biru, 
Melihat sicamar pulang petang,
Melayang-melayang sayap-sayapnye
Menuju ke destinasi, yang aku sendiri tak pasti, ke mana arah nye

Dan saat senja bertandang juga
Tempat para-para penyair, 
bersandar segala sastrawi, mengungkap madah bersyair 
Keindahan engkau- senja

Tapi engkau tetap indah yang nyata senja...

Othman Bin Suhot

Betapa Rapohnya oleh Patimah Jaludin

Dulu!
kau kata cintamu ikhlas
kasihmu suci
sayangmu tiada tandingnya.

Tapi!
kenapa semuanya itu musnah?
betapa rapohnya cintamu
betapa rapohnya kasihmu
betapa rapohnya sayangmu
bagai ranting tua yang bakal tanggal dari dahannya.

Dulu!
kau lahirkan semua kata-kata manismu
kau ukirkan semua ayat-ayat madumu
malah kau berani bersumpah untuk menegakkan kebenaranmu
tapi mengapa sekarang kau lupa segala-galanya itu!

Sesungguhnya!
aku insan biasa
aku percaya pada Takdir yang maha kuasa
aku yakin tiap yang terjadi ada hikmahnya.
  
Patimah Jaludin